KISAH
SEORANG PENJUAL KORAN
Di
sebelah timur, matahari belum nampak. Udara pagi hari terasa dingin. Alam pun
masih diselimuti oleh embun pagi. Seorang anak mengayuh sepedanya di tengah
jalan yang masih lengang. Siapakah gerangan anak itu? Ia adalah seorang penjual
koran, yang bernama Adam, Adam adalah anak perempuan yang tinggal di panti
asuhan dan ia sekarang berumur 14 dan bersekolah di SMP Harapan.
Menjelang pukul lima pagi, ia telah sampai ditempat
agen koran dari beberapa penerbit “Ambil berapa Adam?” tanya bang Kai. “biasa
aja bang” jawab Adam. Abang Kai menggambil koran dan majalah yang biasa dibawa
Adam untuk langganannya. Setelah selesai Adim pun berangkat.
Ia mendatangi pelanggannya setiap harinya. Dari satu
rumah kerumah lainnya. Begitulah pekerjaan Adam setiap paginya. Menyampaikan
koran dan majalah kepada para pelanggannya adalah pekerjaan yang menyenangkan, dan
penuh rasa gembira juga ikhlas saat melakukannya.
Ketika ia sedang memacu sepedanya, tiba-tiba ia
dikejutkan dengan sebuah benda. Benda tersebut adalah sebuah kardus yang
berwarna hitam. Adam pun berhenti dan menghampiri kardus itu “benda apa itu?”
tanya Adam di dalam hatinya. Walaupun Adim sangat takut dengan isi kardus itu
“kalau isinya bom bagaimana?” kata Adam di dalam hati, tetapi ia memberanikan
diri untuk membukanya dan ketika ia membuka kardus itu ia pun terkejut dengan
isi kardus itu yang isinya adalah sebuah kalung, cincin, dan gelang emas. “Wah
milik siapa ini?” tanyanya dalam hati. Adam membolak balik cincin dan kalung
yang berada di kardus. Ia makin terkejut ketika ia melihat ada kartu kredit
didalamnya. “Loh.....ini kan milik pak Johan. Kasihan pak Johan pasti dia habis
di rampok.” Gumamnya dalam hati.
Begitu Adam tahu bahwa perhiasan itu milik pak Johan
maka ia langsung pergi ke rumah pak Johan dan menceritakan apa yang telah ia
alami tadi, begitu pak Johan mendengar perkataan Adam, dan pak Johan langsung
mengucapkan terimakasih kepada Adam. Ia sangat bersyukur karena ternyata
perhiasannya telah di temukan oleh orang yang jujur seperti Adam.
Sebagai ucapan terimakasih, pak Johan memberikan Adam
sebuah amplop yang cukup tebal, tadinya Adam ingin menolaknya tetapi karena ia
dipaksa oleh Pak Johan maka Adam menerimanya “tidak usah pak saya ikhlas
menolong bapak dan keluarga, tetapi bila bapak memaksa maka akan saya terima”.
Kata Adim. Setelah Adam menerima amplop itu ia langsung pamit pulang karena ia
harus buru-buru pergi ke sekolah. “pak saya tidak bisa lama-lama karena saya
harus ke sekolah”. Kata Adam, “iya, selahkan sekali lagi terimakasih ya nak Adam”.
Adam pun langsung buru-buru pulang untuk siap-siap ke sekolah.
Ketika Adam pulang sekolah, karena ia sangat penasaran
dengan isi amplop itu lalu ia mengambil amplop itu yang berada di lemarinya.
“Kira-kira apa ya isinya?” gumamnya di
dalam hati. Dengan perlahan ia membuka amplop itu dan betapa ia terkejut bahwa
isinya adalah sejumlah uang, amplop kecil dan sepucuk surat. “wah uangnya
banyak sekali. Lalu ini apa?”katanya sambil mengambil surat dan amplop kecil
itu, di dalam surat itu tertulis bahwa Pak Johan sangat berterimakasih dan di
dalam surat itu tertulis juga bahwa biaya sekolahnya akan di bayar oleh pak
Johan sampai ia menginjak kuliah dan juga tertulis bahwa isi di dalam amplop kecil itu adalah
benda yang sangat kamu impikan dari dulu. Bagitu Adam membaca surat itu di
berfikir sejenak apa isi amplop itu, “apa ya isinya,” katanya benda yang aku
inginkan tapi apa?, Apakah kedua orang tua ku?, tidak munkin kan orang tuaku
sudah meninggal?, lalu apa ya,? ah dari pada penasaran mendingan aku buka saya
kali ya,” ucapnya. Dengan hati-hati Adam pun membuka amplop kecil itu dan
mengambil benda yang ada di dalam amplop itu dan betapa terkejutnya ia bahwa
yang di berikan oleh pak Johan adalah tiket nonton konser EXO di Jakarta. Ketika Adam
menerimanya ia pun langsung terkejut dan tidak percaya apa yang sudah ia dapat,
karena ia penasaran maka ia pergi ke rumah pak Johan untuk bertanya dan
mengucapkan terimakasih.
Tamat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar